Siapa Biang Kerok Skandal Jiwasraya?

Baca juga:


SKANDAL Korupsi Jiwasraya begitu menarik untuk dicermati publik dan dilihat secara komprehensif, ke mana aliran dana goreng-menggoreng saham jiwasraya yang banyak melibatkan nama-nama pengusaha papan atas dan beberapa nama yang saat ini duduk sebagai pejabat di lingkar kekuasaan, serta menelusuri siapa saja yang menjadi penikmat uang haram skandal kong kalingkong permainan saham milik asuransi tersebut.

"Dari kacamata Intelijen", ke mana arah isu ini bergulir?

Sejumlah pejabat di lingkaran kekuasaan disebut terlibat dalam skandal megakorupsi Jiwasraya yang menurut audit BPK RI menelan kerugian keuangan negara sebesar 13,7 triliun?!

Mungkin apabila "diaudit secara forensik", bisa saja nilai kerugian negaranya melebihi angka tersebut. Hanya sayangnya Jaksa Agung atau "Cakra Satu", hingga saat ini belum sama sekali meminta BPK RI untuk melakukan audit forensik terhadap Asuransi Jiwasraya Persero.

Sejumlah nama-nama pengusaha besar, pajabat, dan perusahaan-perusahaan besar sempat disebut-sebut diduga, terlibat dalam goreng-menggoreng saham asuransi Jiwasraya, gedung bundar Kejaksaan Agung pun telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus Jiwasraya. Padahal seharusnya ada banyak pihak yang bisa ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus megaskandal korupsi Jiwasraya, mulai dari penerima aliran hingga kepada para penikmat uang hasil korupsi Jiwasraya.

Kasus yang berawal dari gagalnya bayar premi nasabah yang terjadi pada November 2019 senilai 11,722 miliar, setelah sebelumnya terjadi gagal bayar saving plan pada Oktober 2018 senilai 802 miliar, yang kemudian disidik oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, kini semuanya diambil alih proses hukumnya di bawah komando Cakra Satu alias Jaksa Agung Republik Indonesia, melalui Jampidsus (gedung bundar).

PMN (Penyertaan Modal Negara) dan Premi Asuransi Jiwasraya (Persero) Tbk, mencapai 91,929 triliun (2008-2018), yang dibagi dalam dua periode, yakni pada periode pertama (2008-2013) 38,65 triliun, dan pada periode kedua (2014-2018) mencapai 53,29 triliun rupiah.

Pada 2013 setidaknya ada sebanyak 26 perusahaan publik yang dibeli sahamnya oleh Jiwasraya (persero), angka pembelian tersebut mencapai angka 5, 616 triliun, namun per 29 November 2019 harga saham pembelian tersebut menyusut menjadi 1,513 triliun atau merugi hingga 72% lebih dari nilai awal, atau merugi lebih dari 4 triliun rupiah.

Selain itu investasi yang dilakukan Jiwasraya (Persero), terhadap lebih dari 23 reksadana saham senilai 12,704 triliun per 29 November 2019 dari hasil audit BPK RI mengalami kerugian sebesar 8,613 triliun atau jeblok sekitar 63% dan kini nilai saham tersebut hanya sekitar 4,023 triliun.

Modus para pelaku petinggi Jiwasraya adalah melakukan pembelian saham dan alat investasi yang seolah saham-saham tersebut berkinerja baik dengan harga yang sangat tak wajar. Bukan hanya itu saja, para direksi Jiwasraya telah melakukan pembayaran komisi asuransi yang tidak sah kepada 3 orang berinisial ERN, GLA, dan BH senilai 54,95 miliar.

Adanya dugaan pembelian saham yang tidak wajar dan perbuatan melawan hukum dalam investasi Jiwasraya (Persero) disebabkan karena, "lemahnya pengawasan OJK" yang sepertinya melakukan pembiaran terhadap praktik yang melanggar etika transaksi di pasar modal, serta adanya permainan para emiten dan para Manajer Investasi dalam goreng-menggoreng saham untuk memperoleh keuntungan di momen-momen tertentu. Namun hasil dari goreng-menggoreng saham tersebut hanya dinikmati oleh oknum-oknum tertentu, bukan untuk kepentingan Jiwasraya (Persero).

Harry Prasetyo, salah satu tersangka kasus Jiwasraya yang sudah ditahan oleh pihak gedung bundar Kajaksaan Agung, selalu berlindung atas nama KSP (Kantor Staf Presiden), padahal apa yang dilakukan oleh HP tidak ada kaitannya langsung dengan KSP. Tersangka HP sepertinya sengaja selalu membawa-bawa institusi KSP, karena kuat dugaan saya, ada pihak/oknum petinggi KSP yang mungkin telah disandera atau sengaja disandera oleh HP atas adanya aliran dana atau bagi-bagi uang hasil jarahan Jiwasraya, dan kemudian oknum yang ada di tubuh KSP ataupun oknum di lingkaran istana berusaha mati-matian membela tersangka HP.

Kejaksaan Agung sudah mulai mengendus sejumlah aliran dana yang berseliweran milik para tersangka, mulai dari rumah-rumah mewah di daerah Menteng seperti di Jalan Cirebon, Jalan Garut dan sebuah showroom mobil yang berada di daerah Radio Dalam Jakarta Selatan yang dibeli oleh para tersangka. Hanya saja aset-aset tersebut tampaknya sengaja belum disita untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan tim gedung bundar.

Selain itu sudah banyak aset-aset milik para tersangka yang telah disita hanya jumlahnya belum memadai, masih berkisar ratusan miliar rupiah, seperti tanah di wilayah BSD, rumah dan beberapa aset lainnya milik para tersangka skandal Jiwasraya.

Penyelidikan dan penyidikan kasus Jiwasraya juga sampai ke negeri tetangga Singapura dan menjelajah menuju Eropa, yaitu London Inggris, hanya saja masih terbentur persoalan yuridiksi untuk mengembalikan aset hasil korupsi tersebut. Informasi intelijen yang saya terima hampir 7 trilyun lebih aset para tersangka ada di sana. Dan seluruh aset-aset yang sudah diendus dan diinventarisir oleh Kejagung di luar negeri sana, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk dilakukan penyitaan.

Pengembangan kasus Jiwasraya, sampai juga pada penelusuran perusahaan securitas bereputasi papan atas semisal TMS, AAAS, dan PT DW Securitas. Selain itu sejumlah Fun Manajer yang diduga ikut terlibat dalam goreng-menggoreng saham ikut dipanggil oleh Kejaksaan Agung, seperti PT. AI perusahaan yang didirikan oleh Heru Hidayat dan EF, serta CI yang pernah dimiliki oleh pengusaha yang pernah menjadi timses Jokowi berinisial ET dan sang kakak GT, serta pengusaha nasional papan atas berinisial NDB.

Kembali kepada tersangka HP yang dikenal di kalangan elite sebagai sinterklas, diduga pernah memberikan jam tangan richard mille seharga miliaran rupiah kepada sejumlah pejabat, itu pun sudah teredus oleh penyidik Kejaksaan Agung. Bahkan penyidik sudah mencium adanya hadiah rumah di kawasan elite, kepada salah satu oknum pejabat dari tersangka.

Itulah yang kemudian membuat kasus ini menyandra pejabat di lingkaran istana.

Yang jelas Jaksa Agung Burhanuddin hanya tinggal menunggu waktu, untuk menyiapkan "pasal penerimaan gratifikasi" terhadap sejumlah pejabat yang berlindung atas nama istana. Padahal kasus Jiwasraya tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Presiden Jokowi. Hanya orang-orang atau oknum di pemerintahan jokowi saja yang terus-menerus mencoba menarik-narik seolah ada keterlibatan presiden dalam kasus Jiwasraya.

Dari informasi intelijen yang saya terima, Jaksa Agung dan Jampidsus pernah dipanggil oleh Presiden Jokowi, agar mengusut tuntas kasus Jiwasraya sampai ke akar-akarnya, dan membersihkan seluruh orang di sekitar preside,  termasuk apabila ada pembantunya yang terlibat dalam skandal korupsi Jiwasraya, termasuk penerimaan gratifikasi dari para tersangka yang telah ditahan oleh penyidik Gedung Bundar.

Aroma adu kuat pun dimulai, antara Penyidik Kejagung di bawah komando Jampidsus melawan para tersangka dan calon tersangka lainnya yang selalu membawa-bawa nama KSP. Cakra Satu dan tim Gedung Bundar Kejaksaan Agung, makin garang untuk mengungkap skandal megakorupsi Jiwasraya.

Menurut informasi yang saya terima, ekspose di Kejagung pun akan segera menetapkan calon-calon tersangka baru dalam skandal korupsi Jiwasraya, yang bisa saja menjerat para pembantu presiden atau pun para pihak yang berupaya menghalang-halangi proses penyidikan kasus Jiwasraya.

Untuk itu publik wajib mendukung "Cakra Satu" atau Jaksa Agung untuk terus mengusut tuntas kasus Jiwasraya ini.Selain itu, publik wajib meminta Kejagung untuk segera menggunakan pasal pidana korporasi terhadap banyaknya perusahaan yang terlibat dalam skandal jiwasraya tersebut, serta menetapkan tersangka baru bagi para penerima gratifikasi karena ada banyaknya pihak yang menjadi penikmat gratifikasi dari para tersangka dan calon-calon tersangka lainnya yang terlibat dalam skandal megakorupsi Jiwasraya.

Sebagai pesan penutup, Kejagung seharusnya juga bisa menetapkan para komisioner OJK yang lalai sebagai tersangka dalam kasus skandal Jiwasraya ini, dan segera memanggil dan menersangkakan para pejabat yang ada di ring istana, karena selalu menjadikan istana sebagai tameng, terlebih pejabat yang menerima hadiah dan gratifikasi dari para tersangka.
_______________________

Pradipa Yoedhanegara
Pengamat Politik

(mr/rmol)

COMMENTS

Loading...

Share

Loading...
Nama

BUMN,26,EKBIS,381,FOKUS,172,GLOBAL,542,HIBURAN,4,IPTEK,292,KHAZANAH,120,KRIMINAL,137,LIFESTYLE,65,NASIONAL,433,OLAHRAGA,312,OPINI,89,OTOMOTIF,54,POLHUKAM,591,RAGAM,527,SELEBRITA,218,
ltr
item
Konfrontasi: Siapa Biang Kerok Skandal Jiwasraya?
Siapa Biang Kerok Skandal Jiwasraya?
https://lh3.googleusercontent.com/-uPco-W0iwC0/XjoXQelQ8tI/AAAAAAAAMi8/8UMWfAwMTd0rZOOfw3u9AtRMs1lCvHaZwCLcBGAsYHQ/s1600/IMG_ORG_1580865330480.jpeg
https://lh3.googleusercontent.com/-uPco-W0iwC0/XjoXQelQ8tI/AAAAAAAAMi8/8UMWfAwMTd0rZOOfw3u9AtRMs1lCvHaZwCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_ORG_1580865330480.jpeg
Konfrontasi
https://web.konfrontasi.com/2020/02/siapa-biang-kerok-skandal-jiwasraya.html
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/2020/02/siapa-biang-kerok-skandal-jiwasraya.html
true
3749342254488479250
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy