Kisah Pertarungan Keimanan Antara Abdullah bin Hudzafah dan Raja Romawi

Baca juga:
KONFRONTASI-Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi, adalah panglima kaum Muslimin yang saat itu diberangkatkan oleh Umar bin Khattab untuk ikut serta dalam pembebasan negeri Syam. Ia diberi misi memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng di wilayah Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun ia gagal dalam salah satu pertempuran. Dia pun tertangkap oleh tentara Romawi.

Dari salah satu tulisan Muhammad Amin Al-Jundi dalam buku Hiburan Orang-Orang Shalih, dikisahkan sosok Abdullah bin Hudzafah pun dibawa pulang oleh tentara tersebut menuju negeri mereka. Kepada raja Romawi mereka menyatakan bahwa ia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad. Mendengar itu, sang raja pun merasa memiliki kesempatan untuk menyakiti dan menyiksa kaum Muslimin.

Ia pun ingin melihat sosok Abdullah bin Hudzafah secara langsung. Ia ingin menguji seberapa kuat agama yang ia miliki dan ingin menjauhkannya dari agama Islam. Sang raja memulai dengan memberikan bujukan dan penawaran.

Kepada Abdullah bin Hudzafah, ditawarkan berbagai pilihan yang menggiurkan, mulai sejumlah harta, dinikahkan dengan sang putri kerajaan, hingga seluruh harta dan kerajaan yang ia miliki. Sang raja berkata, "Apakah kamu mau memeluk agama Nasrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?"

"Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad SAW sekejap mata pun," ujar Abdullah bin Hudzafah menjawab pertanyaan Raja Romawi.

Raja Romawi pun berujar, "Kalau begitu, aku akan membunuhmu." Dan oleh Abdullah bin Hudzafah dijawab, "Silakan saja."

Sahabat pun dimasukkan ke dalam penjara dan sama sekali tidak diberi makan maupun minum selama tiga hari berturut-turut. Setelah itu, ia ditawari segelas arak dan daging babi sebagai penawar dahaga dan lapar yang sudah ia jalani selama tiga hari. Jelas, Abdullah menolaknya. Selama beberapa hari ke depan, ia tidak menyentuh makanan dan minuman yang ada hingga hampir mati.

Melihat ini, sang raja mengeluarkan ia dari penjara dan bertanya, "Apa yang membuatmu anggap minum arak dan makan daging babi, padahal engkau dalam kondisi kelaparan dan terpaksa?" Sang sahabat menjawab, "Ketauhilah, kondisi darurat memang telah menjadikan hal tersebut halal bagi saya dan tidak ada keharaman bagi saya memakannya. Namun, saya lebih memilih untuk tidak memakannya sehingga saya tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk bersorak melihat kemalangan Islam."

Raja Romawi pun memerintahkan agar Abdullah dilemparkan ke dalam air mendidih. Namun, ketika hendak dilemparkan, sang sahabat menangis. Para tentara yang bertugas pun melaporkan hal ini kepada raja mereka. Ia mengira Abdullah bin Hudzafah menangis karena takut mati serta menunjukkan bahwa ia mundur dari posisinya dan membatalkan ketetapan hatinya serta mengabulkan keinginan sang raja untuk memeluk agama Nasrani.

Raja pun kembali memanggil sahabat ini. Dia menawarkan untuk masuk ke agama Nasrani. Namun, jelas hal ini kembali ditolak. "Lalu mengapa engkau menangis?" tanya sang Raja. "Sa ya menangis karena saya menyesal mengapa nyawaku cuma satu. Aku berharap memiliki nyawa sebanyak rambut yang ada di tubuhku dan semuanya diceburkan ke dalam panci itu sehingga semuanya mati di jalan Allah," jawab Abdullah bin Hudzafah. Jawaban ini membuat raja mengakui kekalahannya. Ia merasa memiliki harta, pangkat, kekuatan, dan dunia. Namun, berhadapan dengan seorang Muslim yang tidak bersenjata dan tidak menyandang apa-apa. Ia pun memberikan tawaran terakhir sebagai bentuk kekalahannya.

Demi menjaga martabatnya, raja Romawi ini berkata, "Hai Abdullah bin Hudzafah, maukah kamu mengecup kepalaku? Saya akan membebaskanmu dan melepaskanmu". Mendengarnya, sahabat Nabi ini menjawab, "Baiklah, dengan syarat engkau harus melepaskan semua tawanan kaum Muslimin yang berada di dalam penjara kalian". Berkat Abdullah bin Hudzafah, total 300 tawanan yang ditangkap dan dipenjarakan oleh raja Romawi pun dibebaskan.

Sepulangnya dari kerajaan tersebut, cerita pun sampai di telinga Umar. Ia menghampiri Abdullah bin Hudzafah dan mengecup kepalanya. 

"Harusnya semua umat Islam mencium kepala Abdullah dan sekarang aku orang pertama yang mencium kepala Abdullah," ujar Umar sambil mencium kepala Abdullah. Perilaku ini pun berikutnya diikuti oleh sahabat yang lainnya.(mr/rol)


COMMENTS

Loading...

Share

Loading...
Nama

BUMN,26,EKBIS,379,FOKUS,172,GLOBAL,532,HIBURAN,4,IPTEK,291,KHAZANAH,120,KRIMINAL,137,LIFESTYLE,65,NASIONAL,423,OLAHRAGA,312,OPINI,83,OTOMOTIF,53,POLHUKAM,539,RAGAM,515,SELEBRITA,217,
ltr
item
Konfrontasi: Kisah Pertarungan Keimanan Antara Abdullah bin Hudzafah dan Raja Romawi
Kisah Pertarungan Keimanan Antara Abdullah bin Hudzafah dan Raja Romawi
https://lh3.googleusercontent.com/-aGDFcT71JMI/XpREbJqT10I/AAAAAAAAPcs/gZzlAZCuuGIbu1gVkvuxVRg0BCuRYgOhgCLcBGAsYHQ/s1600/1586775145796261-0.png
https://lh3.googleusercontent.com/-aGDFcT71JMI/XpREbJqT10I/AAAAAAAAPcs/gZzlAZCuuGIbu1gVkvuxVRg0BCuRYgOhgCLcBGAsYHQ/s72-c/1586775145796261-0.png
Konfrontasi
https://web.konfrontasi.com/2020/04/kisah-pertarungan-keimanan-antara.html
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/2020/04/kisah-pertarungan-keimanan-antara.html
true
3749342254488479250
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy