Erdogan Ingin Bangun Turki Raya Lewat Neo-Ottoman

Baca juga:


TURKI- Sejarah mencatat bahwa Turki dan Azerbaijan merupakan 'dua negara, satu bangsa'. Hal ini bukan saja menurut keyakinan orang-orang ultranasionalis dan pan-Turki, tetapi juga diyakini oleh orang nomor satu di Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan juga dan mitranya dari Azerbaijan Ilham Aliyev.

Erdogan mengejar kebijakan Neo-Ottomanisme di Suriah bahkan dengan mengimbau Sunni Arab radikal untuk menggulingkan pemerintahan sekuler Presiden Bashar al-Assad.

Dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menarik dukungan mereka untuk militan Suriah, Turki tetap menjadi satu-satunya negara kawasan yang terus mendanai, mempersenjatai dan melatih kaum radikal Islam di negara itu.

Neo-Ottomanisme sendiri adalah gerakan politik-agama dengan seorang Khalifah Turki sebagai pemimpin. Sementara Pan-Turkisme merupakan gerakan etno-linguistik, pergerakan politik yang menyatukan berbagai bangsa Turki menuju negara politik modern.

Neo-Ottoman menginginkan sebuah 'kerajaan' untuk menggantikan manifestasi politik negara-bangsa tempat mereka tinggal. Dengan sinkretisme Pan-Turkisme dan Neo-Ottomanisme, Erdogan mengejar perluasan pengaruh Turki, dan bahkan mungkin memperluas perbatasan Turki, seperti dikutip dari GCT, Jumat (27/11).

Meskipun Erdogan mengklaim mendukung persatuan negara Suriah, ini tidak menghalangi dia untuk membuka bank Turki secara ilegal di Suriah utara, menyebarkan lira Turki, mengibarkan bendera Turki di gedung-gedung pemerintah Suriah, menggunakan kurikulum pendidikan Turki di sekolah-sekolah Suriah, atau meminta komandan Tentara Pembebasan Suriah berpose dengan peta Kekaisaran Ottoman.

Neo-Ottomanisme adalah impian untuk membangun kembali Kekaisaran Ottoman, atau setidaknya memperluas pengaruh Turki atas bekas wilayah Kekaisaran Ottoman yang membentang dari Aljazair hingga Mesir dan turun ke Somalia. Lalu dari Yaman hingga Suriah dan Irak, serta keseluruhan Anatolia dan Balkan dan sebagian besar garis pantai Laut Hitam, termasuk Krimea.

Namun Pan-Turkisme adalah pembenaran Erdogan untuk memperluas pengaruh Turki di luar bekas perbatasan Kekaisaran Ottoman.

Kekaisaran Ottoman tidak pernah secara langsung menguasai Azerbaijan dan juga Artsakh (yang lebih dikenal dengan Nagorno-Karabakh). Namun, arah untuk 'menggenggam keduanya telah dirancang.

Suku Azeri (Azerbaijan) sebenarnya memiliki nenek moyang yang sama dengan orang Turki, yaitu orang Turki Oghuz.

Orang Turki Oghuz bermigrasi ke Asia Tengah dari Pegunungan Altay di wilayah perbatasan Siberia, Mongolia, Xinjiang, dan Kazakhstan. Dari Asia Tengah mereka memulai migrasi dan invasi baru ke Kaukasus dan Anatolia.

Keberhasilan militer Azerbaijan yang didukung Turki dalam merebut sebagian besar wilayah Artsakh dari kendali Armenia, adalah impian Erdogan untuk menghubungkan Azerbaijan dengan eksklafnya di Nakhichevan akan menjadi nyata.

Bagian dari perjanjian gencatan senjata adalah mengizinkan jalan yang menghubungkan dua wilayah Azerbaijan yang terpisah. Jalan ini akan dibangun melintasi provinsi Syunik selatan Armenia.

Penjaga perdamaian Rusia akan memastikan tidak ada lagi kekerasan yang meletus di wilayah Nagorno-Karabakh, tetapi dengan tugas mereka yang hanya sampai lima tahun di sana, tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah penjaga perdamaian itu pergi.

Dengan kondisi saat ini yang tidak memperhitungkan perkembangan potensial di masa depan, begitu pasukan penjaga perdamaian Rusia selesai bertugas, kemungkinan akan kembali terjadi konflik karena Turki dan Azerbaijan telah bersumpah untuk mengendalikan semua wilayah Artsakh.

Turki di bawah Erdogan juga menggaungkan 'Satu Bangsa, Tiga Negara' yang terdiri dari Turki, Azerbaijan, dan Turki Siprus Utara (TRNC).

Selama pasukan penjaga perdamaian Rusia tetap berada di Artsakh, sinkretisme Erdoğan terhadap neo-Ottomanisme dan pan-Turkisme telah menjadi penghalang di Kaukasus, meskipun pada akhirnya menjadi pembukaan jalan ke eksklave Nakhichevan (yang dipatroli Rusia) yang terjepit di antara Armenia, Iran, dan Turki.

Melalui sinkretisme neo-Ottomanisme dan pan-Turkisme ini, Erdogan berhasil memperluas pengaruh Turki dengan melanggar kedaulatan negara lain. Ini sudah terlihat dengan operasi militer di Suriah, Libya dan Artsakh, serta pendudukan Siprus utara dan pelanggaran ruang udara dan maritim Yunani. (*)


COMMENTS

Loading...

Share

Loading...
Nama

BUMN,26,EKBIS,397,FOKUS,172,GLOBAL,665,HIBURAN,4,IPTEK,300,KHAZANAH,122,KRIMINAL,137,LIFESTYLE,65,NASIONAL,469,OLAHRAGA,314,OPINI,98,OTOMOTIF,56,POLHUKAM,969,RAGAM,709,SELEBRITA,226,
ltr
item
Konfrontasi: Erdogan Ingin Bangun Turki Raya Lewat Neo-Ottoman
Erdogan Ingin Bangun Turki Raya Lewat Neo-Ottoman
https://lh3.googleusercontent.com/-I1N_1X79T5U/X8OgizP1a3I/AAAAAAAAY2E/A0iIGeT7qycRevFnPNmEik2wnwsLH6-XwCLcBGAsYHQ/s1600/1606656133261204-0.png
https://lh3.googleusercontent.com/-I1N_1X79T5U/X8OgizP1a3I/AAAAAAAAY2E/A0iIGeT7qycRevFnPNmEik2wnwsLH6-XwCLcBGAsYHQ/s72-c/1606656133261204-0.png
Konfrontasi
https://web.konfrontasi.com/2020/11/erdogan-ingin-bangun-turki-raya-lewat.html
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/2020/11/erdogan-ingin-bangun-turki-raya-lewat.html
true
3749342254488479250
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy