Tahanan Polres Sumba Barat Meninggal di Ruang Penjara, Diduga Dianiaya


SUMBA BARAT-Seorang tahanan polisi di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur berinisial AA, warga Desa Malinjak, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur meninggal di ruang tahanan polisi Kamis (9/12). Korban diduga meninggal akibat dianiaya oknum polisi sesaat setelah ditangkap sejumlah anggota Polres Sumba Barat.

Menurut juru bicara keluarga korban, Antonius Gala, dilansir CNN Indonesia.com, Minggu (12/12), kejadian tersebut berawal saat AA ditangkap oleh sejumlah anggota Polres Sumba Barat pada Rabu (8/12) sekitar pukul 23.00 Wita.

Kata Antonius, pada Rabu malam, ada anggota polisi berpakaian sipil berjumlah sekitar enam hingga delapan orang dengan senjata lengkap mendatangi dan mengepung rumah kerabat AA bernama Andreas Maki Pawolung untuk menangkap AA.

"Jadi jam 10 lebih (22.00 WITA) datang beberapa orang ke rumah om-nya (paman) AA. Ternyata mereka adalah polisi yang bersenjata lengkap datang untuk menangkap AA", jelas Antonius.

Menurutnya, saat melakukan penangkapan, para polisi tersebut, sempat adu mulut dengan Andreas karena, menurut Antonius, para polisi tersebut tidak bisa menunjukkan surat perintah penangkapan yang diminta oleh Andreas. Polisi, kata dia, juga tidak menjelaskan kasus yang disangkakan terhadap AA.

Saat itu, lanjut Antonius, AA tidak berada di dalam rumah dan sedang bermain petasan.

Namun, sejumlah polisi lalu menangkap AA di sekitar rumah Andreas. Setelah ditangkap AA pun diborgol dan juga diikat kaki dan tangannya.

"Saat itu (mereka) kepung rumah dan kelihatan banyak sekali, tapi yang masuk dalam rumah ada empat orang dan empat orang yang di luar yang menangkap AA", tambahnya.

Setelah ditangkap, kata Antonius, para polisi tersebut langsung membawa AA dengan sepeda motor dan tidak lagi mengindahkan permintaan Andreas untuk menunjukkan surat perintah penangkapan.

Kata Antonius, dari informasi yang diterima keluarga, AA ditangkap polisi karena dugaan terlibat kasus pencurian dan penganiayaan.

"Kami (keluarga) tahu dari postingan di media sosial bahwa AA dituduh penganiayaan dan pencurian", kata Antonius.

Keesokan harinya, yakni Kamis (9/12) sekitar jam 10.00 Wita, datang Kapolsek Katiku Tana memberitahukan kepada Andreas dan keluarga lainnya bahwa AA telah meninggal dunia.

"Keluarga kaget dan tidak percaya, keluarga juga keberatan. Bagaimana AA baru ditangkap tadi malam tapi pagi ini sudah meninggal", kata Antonius.

Saat diberitahukan tentang kematian AA juga menurut Antonius, Kapolsek Katiku Tana tidak memberitahukan penyebab kematian korban dan tidak secara tegas memberitahukan dimana korban meninggal dunia.

"Pak Kapolsek hanya memberitahukan bahwa korban meninggal karena sesak napas saat bertengkar dengan tahanan lain", tambah Antonius.

Awalnya, kata Antonius, keluarga menolak jenazah korban untuk diserahkan kepada keluarga. Tetapi setelah pihak Pemerintah Daerah Sumba Tengah melakukan mediasi dengan pihak keluarga akhirnya keluarga mau menerima jenazah korban.

Saat itu, kata Antonius, pihak Pemda yang melakukan mediasi dengan keluarga korban adalah Asisten 1 Sumba Tengah, Adris Sabaora dan Kepala Dinas Polisi Pamopraja Sumba Tengah, Christian Sabarua atas perintah dari Bupati Sumba Tengah.

"(Jenazah) Diantar oleh polisi, difasilitasi oleh Pemda (Sumba Tengah), diantar dari Rumah Sakit Daerah Waikabubak (Sumba Barat) terus mampir di Pemda dan difasilitasi oleh Pemda datang ke keluarga untuk antar jenazah, dari pemda Asisten satu dan Kadis Pol. PP atas perintah bapak Bupati (Sumba Tengah)", jelas Antonius.

Keluarga menduga AA meninggal karena mengalami kekerasan sesaat setelah ditangkap oleh polisi. Karena saat peti jenazah dibuka, ditemukan memar pada wajah korban, patah tulang leher, patah kaki kanan dan tangan kanan. Selain itu ditemukan luka tusukan di beberapa bagian tubuh korban.

"Ada sekitar tiga luka tusukan," ujar Antonius.

Antonius menyebutkan, mereka belum mengambil langkah hukum untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian yang dianggap bertanggungjawab atas peristiwa kematian AA.

Saat ini, kata Antonius, keluarga masih fokus untuk mengurus pemakaman jenazah AA yang akan dilaksanakan pada Senin ( 13/12) siang. Jenazah masih disemayamkan di Kampung Waikawolu, Desa Malinjal, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Sumba Barat.

Keluarga, lanjut Antonius, meminta pertanggungjawaban pihak kepolisian dari Polres Sumba Barat karena AA ditangkap dan dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa.

"Polisi harus bertanggung jawab atas kematian AA," tegas Antonius.

Dikatakan Antonius, keluarga menuntut agar aparat kepolisian yang terlibat agar diproses hukum. Karena sebagai aparat penegak hukum harusnya menjadi pelindung bukan justru melakukan kekerasan.

"Harusnya ketika berada di tangan polisi, dia mendapat perlindungan", kata Antonius.

Sementara itu Kapolres Sumba Barat, AKBP. F.X Irwan Irianto, Minggu (12/12), mengatakan telah memeriksa tujuh anggota Polres Sumba Barat terkait kematian AA.

"Sudah ada tujuh (orang) yang kami periksa", tegasnya.

Pemeriksaan lanjut Irwan, dilakukan oleh propam Polres Sumba Barat. Dan sudah ada empat orang yang mengaku melakukan penganiayaan sedangkan tiga lainnya masih saksi.

Keempat anggota Polres Sumba Barat tersebut mengaku melakukan pemukulan di kaki dan tangan korban.

"Empat sudah tersangka, dan tiga orang saksi", tegas Irwan.

Dia memastikan, akan melakukan proses hukum bagi anggotanya yang terlibat melakukan kekerasan hingga mengakibatkan Arkin Anabira tangkapan Polres Sumba Barat meninggal dunia.

Irwan menyebutkan korban tidak diautopsi karena ditolak oleh keluarga.

"Tapi nanti masih menunggu hasil visum et repertum yang dilakukan dokter dari RSUD Waikabubak," katanya.

Dia menjelaskan, AA meninggal di depan kamar mandi ruang tahanan Polres Sumba Barat. Saat itu korban terlihat sesak napas dan terjatuh di depan kamar mandi lalu dilarikan ke rumah sakit tapi nyawanya tidak tertolong.(mr/cnn)

COMMENTS

Nama

EKBIS,627,ENGLISH,76,FEED,52,FOKUS,267,GLOBAL,1236,HIBURAN,402,INTERNASIONAL,1,IPTEK,523,NASIONAL,2321,OLAHRAGA,394,OPINI,153,PROMOTE,1,RAGAM,1990,RELIGI,55,
ltr
item
WEB: Tahanan Polres Sumba Barat Meninggal di Ruang Penjara, Diduga Dianiaya
Tahanan Polres Sumba Barat Meninggal di Ruang Penjara, Diduga Dianiaya
https://lh3.googleusercontent.com/-FWEetxR7EXc/YbY0zGZbbBI/AAAAAAAAtvc/ZGF2hHU0y_c27_8ftMBE4wrbmOsbb0FRACNcBGAsYHQ/s1600/1639331017589955-0.png
https://lh3.googleusercontent.com/-FWEetxR7EXc/YbY0zGZbbBI/AAAAAAAAtvc/ZGF2hHU0y_c27_8ftMBE4wrbmOsbb0FRACNcBGAsYHQ/s72-c/1639331017589955-0.png
WEB
https://web.konfrontasi.com/2021/12/tahanan-polres-sumba-barat-meninggal-di.html
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/
https://web.konfrontasi.com/2021/12/tahanan-polres-sumba-barat-meninggal-di.html
true
3749342254488479250
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By HOME PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy