JAKARTA - Ketua Umum Relawan Jaringan Nasional (Jarnas) Prabowo-Gibran, H. Nasarudin, SH., MH., menilai berbagai kebijakan strategis yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto saat ini merupakan bagian dari upaya besar negara dalam memerangi mafia ekonomi dan mafia sumber daya alam yang selama puluhan tahun menggerogoti kekuatan ekonomi nasional.
Menurut Nasarudin, langkah pemerintah untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional tidak dapat dilepaskan dari berbagai tantangan dan tekanan yang muncul, baik dari dalam maupun luar negeri.
"Presiden Prabowo sedang memimpin perang besar melawan mafia ekonomi dan mafia sumber daya alam. Ketika negara mulai membenahi tata kelola kekayaan nasional, memperkuat penerimaan negara, dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar, tentu akan muncul berbagai bentuk perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem yang tidak sehat," kata Nasarudin, Minggu (7/6/2026).
Ia mengatakan, salah satu kebijakan yang patut diapresiasi adalah komitmen pemerintah untuk menjaga kedaulatan ekonomi tanpa menambah ketergantungan terhadap lembaga keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) maupun Bank Dunia.
Menurut dia, Indonesia harus mulai mengandalkan kekuatan ekonomi sendiri dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam dan memperkuat sektor produksi dalam negeri.
"Kami mendukung penuh kebijakan pemerintah yang tidak ingin menjadikan utang luar negeri sebagai solusi utama pembangunan. Bangsa ini memiliki sumber daya yang sangat besar dan harus mampu berdiri di atas kaki sendiri," ujarnya.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak, Nasarudin mengakui nilai tukar rupiah sedang menghadapi tekanan. Namun demikian, ia mengingatkan agar masyarakat melihat persoalan tersebut secara lebih komprehensif.
Menurut dia, tekanan terhadap mata uang suatu negara tidak selalu semata-mata dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga dapat berkaitan dengan dinamika geopolitik dan kepentingan ekonomi global.
"Kita tidak boleh naif. Ketika sebuah negara mulai berani mengelola kekayaannya sendiri, memperkuat posisi tawarnya, dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi luar, maka berbagai tekanan bisa saja muncul. Karena itu kita harus tetap waspada dan menjaga persatuan nasional," katanya.
Nasarudin mengapresiasi langkah konsolidasi yang dilakukan tim ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang dinilainya aktif mendorong komunikasi dan koordinasi lintas sektor untuk menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Meski rupiah mengalami tekanan, Nasarudin menilai pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan perlindungan sosial, termasuk mempertahankan subsidi energi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
"Rakyat masih bisa merasakan kehadiran negara. Subsidi BBM dan LPG tetap berjalan, harga kebutuhan pokok relatif terkendali, dan program swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo mulai memperkuat ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Lebih lanjut, Nasarudin menyoroti langkah pemerintah yang memperketat pengawasan terhadap sektor-sektor strategis, termasuk ekspor komoditas sumber daya alam.
Menurut dia, upaya pemerintah menindak praktik under invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang tidak sesuai dengan nilai sebenarnya merupakan langkah penting untuk mengamankan hak negara atas kekayaan alam Indonesia.
"Sektor-sektor seperti CPO, batubara, dan mineral memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Karena itu negara harus memastikan seluruh aktivitas ekonomi berlangsung secara transparan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia," katanya.
Ia juga mendukung langkah pemerintah dalam menertibkan perkebunan sawit yang bermasalah, termasuk yang berada di kawasan hutan atau tidak memenuhi kewajiban terhadap negara.
Menurut Nasarudin, penertiban tersebut merupakan bagian dari upaya membangun tata kelola sumber daya alam yang lebih berkeadilan sekaligus memastikan tidak ada pihak yang memperoleh keuntungan dengan merugikan masyarakat dan negara.
"Kekayaan Indonesia tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir kelompok. Sumber daya alam harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Nasarudin juga mendorong pemerintah untuk menciptakan berbagai insentif yang mampu menarik kembali dana dan aset milik warga negara Indonesia yang selama ini tersimpan di luar negeri.
Ia menilai modal nasional harus menjadi salah satu kekuatan utama dalam mendukung pembangunan dan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Di akhir keterangannya, Nasarudin mengajak seluruh elemen bangsa untuk memberikan dukungan terhadap berbagai langkah pembenahan yang sedang dilakukan pemerintah.
"Kami mengajak seluruh anak bangsa, para akademisi, aktivis, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha untuk menjaga persatuan dan bersama-sama mendukung upaya pemerintah memerangi mafia ekonomi serta mafia sumber daya alam. Ini bukan hanya perjuangan Presiden Prabowo, tetapi perjuangan seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi nasional," kata Nasarudin. I press

COMMENTS